Tips Jadi Pemimpin Handal ala CEO Tupperware
- 06.04
- by
- Sony Swangga
Hal inilah yang selalu ditekankan oleh Rick Goings, CEO dari produk rumah Tupperware Brands, sebuah produk yang menghasilkan USD2,6 miliar tahun lalu, dia selalu mengajak orang-orang muda untuk bersikap ramah pada seseorang.
"Saya selalu bertanya kepada supir, resepsionis dan asisten saya tentang cara calon pegawai ini berinteraksi dengan mereka. Bagaimana Anda memperlakukan orang lain akan sangat berarti bagi mereka," jelas dia.
Memasuki usia ke 41, dia masih memiliki tiga sikap yang harus diimplementasikan pada abad ke-21. Berikut adalah tips jadi pemimpin handal ala CEO Tupperware.
"Saya harus menggunakan keingintahuan intelektual saya untuk membayangkan apa yang wanita di negara-negara selain AS akan lakukan, terhadap peluang bisnis penjualan seperti Tupperware," jelas dia.
Memasuki usia ke 41, dia masih memiliki tiga sikap yang harus diimplementasikan pada abad ke-21. Berikut adalah tips jadi pemimpin handal ala CEO Tupperware.
1. Penasaran dengan cara yang cerdas
Sangat penting untuk mengembangkan rasa ingin tahu dalam dunia ini, namun kemampuan untuk melihat realitas dan kemampuan untuk melihat-lihat sudut pandang tersebut harus dilakukan dengan cara yang cerdas. Menurutnya, banyak cara bisnis dan filosofi pribadi yang berubah ketika dia pertama kali pindah dari Amerika Serikat ke Eropa dan kemudian ke Asia. Dia menjelaskan, bagaimana perspektif orang Amerika dalam pendekatan di pasar global."Saya harus menggunakan keingintahuan intelektual saya untuk membayangkan apa yang wanita di negara-negara selain AS akan lakukan, terhadap peluang bisnis penjualan seperti Tupperware," jelas dia.
Ternyata perempuan di Indonesia, bila dibandingkan dengan negara-negara lain, yang telah bekerja selama tiga tahun atau lebih sebagai penjual Tupperware, telah mengalami perubahan hidup langsung, yang diperoleh karena menjalankan bisnis mereka sendiri.
Ratusan ribu wanita ini telah meningkatkan kondisi keuangan dan kemampuan untuk merawat keluarga mereka. Padahal banyak dari mereka yang sebelumnya pemalu, penakut dan merasa tidak pede menjadi percaya diri, bangga, dan independen.
2. Selalu menginspirasi orang lain
Rick selalu datang jika dia mendapat undangan, hal ini dilakukan agar semua orang yang hadir dalam undangan tersebut dapat terinspirasi oleh komitmennya dan dapat mendorong mereka untuk lebih berkembang.
Oleh karena itu, dia tidak pernah mendelegasikan tugas tersebut kepada eksekutif senior lainnya. Menurutnya, jika undangan tersebut melibatkan ketua dan CEO, maka orang yang senang berbisnis akan muncul.
Selain itu, dia dan istrinya, Susan, berupaya untuk mendukung seluruh anak-anak agar dapat tumbuh di lingkungan yang aman dan mengajarkan mereka keterampilan berharga. DIa percaya bahwa semua anak, tidak peduli apa latar belakang ekonomi atau status sosial mungkin, dapat bersaing. Mereka bisa menang jika diberi kesempatan.
"Ini merupakan kewajiban pemimpin perusahaan untuk melihat di cermin dan bertanya pada diri sendiri bagaimana mereka benar-benar dapat membuat perbedaan," katanya.
3. Terus berimprovisasi
Pengalaman akan membawa kita mendapatkan keberhasilan namun ada kalanya kita juga akan berhadapan dengan kegagalan, keduanya penting dan menjadi elemen yang tidak dapat dipisahkan. Dia yakin, pembelajaran dari pengalaman tersebut akan membantu kita menjadi pemimpin yang lebih baik dan mentor yang lebih baik dari orang lain.
Kadang-kadang operasi bisnis tidak bergerak secepat sebagaimana mestinya, karena karyawan atau pemimpin masih kekurangan pengalaman. Seperti terlalu bermain aman dan tidak menghasilkan ide-ide yang cukup kreatif, orang yang kurang pengalaman tidak akan menjadi yang terbaik.
"Jika Anda ingin mendapatkan hasil maksimal dari seseorang, Anda tidak memaksa ide itu keluar dari mereka, tapi Anda harus membantu ide itu keluar dari mereka," kata Rick.
Profil Rick Goings
Rick Goings, merupakan lulusan Wheaton Community High School, Wheaton, Illinois, pada 1963. Selain itu, pada periode 1964–1966 dia juga menjadi bintara di USS Power, U.S. Navy. Dia melanjutkan pendidikannya di Guilford College, Greensboro, pada 1970.
Lulus dari Guilford dia ditunjuk menjadi CEO di Dynamics pada periode 1970–1985. Kemudian pada periode 1986–1988 dia bergabung ke Avon Products dan menjadi wakil ketua kelompok.
Kemudian pada periode selanjutnya 1988–1989, dia menjadi Senior operating officer untuk lingkar Pasifik. Baru pada pada 1989–1992 dia diaulat menjadi President, Avon di Amerika.
Kemudian pada periode 1992–1996 dia keluar dan bergabung ke Premark International untuk mengelola Tupperware secara global. Baru pada periode 1996–1997, dia diangkat menjadi president di Tupperware Brands dan hingga saat ini dia dipercaya menjadi Chairman and CEO.
Sumber: smartbisnis.co.id

0 komentar:
Posting Komentar